Peserta Prolanis masih boleh minum teh manis dan makan gorengan? Kenali dampaknya bagi gula darah dan tekanan darah, serta tips memilih pola makan yang lebih sehat.
Program Pengelolaan Penyakit Kronis atau Prolanis bertujuan membantu peserta menjaga kesehatan jangka panjang, terutama bagi penderita diabetes dan hipertensi. Namun, tidak sedikit peserta yang masih gemar mengonsumsi teh manis dan gorengan dalam keseharian. Pertanyaannya, apakah kebiasaan ini masih diperbolehkan?
Pada dasarnya, teh manis dan gorengan boleh dikonsumsi sesekali. Namun, jika terlalu sering, keduanya dapat menghambat upaya pengendalian penyakit. Asupan gula dan lemak berlebih dapat membuat kadar gula darah, tekanan darah, serta berat badan menjadi lebih sulit dikontrol.
Teh manis mengandung gula dalam jumlah tinggi. Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan lonjakan gula darah dan penambahan berat badan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membebani kerja jantung dan memperburuk pengelolaan diabetes maupun hipertensi.
Sementara itu, gorengan dikenal tinggi lemak dan kalori. Proses penggorengan dengan minyak yang digunakan berulang kali dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh. Selain itu, gorengan sering mengandung garam tersembunyi yang dapat memicu kenaikan tekanan darah. Jika dikonsumsi terlalu sering, risiko obesitas, penyakit jantung, dan komplikasi lainnya akan meningkat.
Agar manfaat Prolanis dapat dirasakan secara optimal, peserta disarankan mulai memilih pola makan yang lebih sehat. Teh manis dapat diganti dengan air putih atau teh tawar tanpa gula. Untuk makanan, metode memasak seperti merebus, mengukus, atau memanggang lebih dianjurkan dibandingkan menggoreng.
Tidak kalah penting, peserta Prolanis sebaiknya rutin berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi. Dengan pendampingan yang tepat, pola makan dapat disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing. Tujuan utama Prolanis adalah membantu peserta menjalani hidup yang lebih sehat, aktif, dan berkualitas dalam jangka panjang.